Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Jawa Tengah menutup rangkaian Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Angkatan ke-52 Tahun 2026 melalui sebuah seremoni resmi yang berlangsung pada Senin, 9 Februari 2026. Kegiatan ini digelar di Hotel Ganesha, sekaligus menjadi penanda berakhirnya masa pengabdian mahasiswa di sejumlah desa lokasi penempatan.
Seremoni penutupan diikuti para mahasiswa peserta KPM, kepala desa dari wilayah pengabdian, serta unsur pemerintah kecamatan. Hadir pula Camat Bener, Loano, dan Gebang bersama perwakilan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Purworejo serta jajaran pimpinan universitas.
Dalam susunan acara inti, Ketua LP3M menyampaikan laporan komprehensif mengenai pelaksanaan KPM 52. Paparan tersebut memuat realisasi program kerja, pengaruh kegiatan terhadap masyarakat, hingga berbagai inovasi yang lahir dari kreativitas mahasiswa.
Ia menekankan bahwa KPM telah berkembang menjadi sarana pembelajaran nyata yang mempertemukan teori kampus dengan kebutuhan riil warga. Program ini dinilai memberi kontribusi langsung dalam upaya penguatan kapasitas dan kemandirian desa.
Rektor UNSIQ pada kesempatan yang sama memberikan penghargaan tinggi atas dedikasi para mahasiswa. Menurutnya, keberhasilan kegiatan tidak lepas dari dukungan pemerintah daerah serta keterbukaan masyarakat dalam menerima kehadiran peserta KPM.
Rektor menegaskan bahwa program pengabdian merupakan implementasi penting dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui kegiatan semacam ini, mahasiswa diharapkan tumbuh menjadi insan intelektual berkarakter Qur’ani, memiliki daya saing, dan tetap menempatkan kepedulian sosial sebagai landasan tindakan.
Sementara itu, Kepala DP3APMD Kabupaten Purworejo, Laksana Sakti, turut menyampaikan apresiasinya. Ia menilai keterlibatan mahasiswa memberikan energi baru bagi proses pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa.
Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah perlu terus dijaga dan ditingkatkan. Sinergi tersebut diyakini mampu menghadirkan model pembangunan yang lebih inklusif, partisipatif, serta berkelanjutan.
Penutupan KPM juga diwarnai dengan pemberian penghargaan kepada sejumlah kelompok mahasiswa. Award tersebut diberikan berdasarkan kualitas luaran program, tingkat inovasi, serta manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.
Momen ini menjadi bentuk pengakuan atas kerja keras peserta selama menjalankan pengabdian. Selain itu, penghargaan diharapkan dapat memotivasi mahasiswa lain untuk terus menghadirkan gagasan kreatif di masa mendatang.
Melalui kegiatan penutup ini, UNSIQ ingin memastikan bahwa semangat pengabdian tidak berhenti ketika mahasiswa kembali ke bangku kuliah. Nilai kolaborasi, empati, dan pemberdayaan diharapkan tetap hidup dalam aktivitas akademik maupun sosial berikutnya.
Seremoni berlangsung khidmat namun tetap hangat, memperlihatkan kedekatan antara kampus, pemerintah, dan masyarakat. Kebersamaan tersebut menjadi gambaran bahwa pengabdian sejatinya adalah kerja bersama untuk kemajuan desa.
Dengan berakhirnya KPM Angkatan ke-52, universitas berharap pengalaman lapangan yang diperoleh mahasiswa dapat menjadi bekal berharga. Tidak hanya untuk pengembangan diri, tetapi juga untuk memperkuat komitmen mereka dalam memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.