Selama ini, sebagian besar produsen lanting di Jetis masih menjual produknya dengan sistem “bal-balan”. Lanting dijual dalam jumlah besar tanpa kemasan menarik, tanpa label, dan tanpa merek dagang. Produk tersebut kemudian dibeli oleh pedagang besar dari luar daerah, yang selanjutnya mengemas ulang lanting dengan branding mereka sendiri sebelum dipasarkan ke konsumen akhir.
Praktik ini memang memberikan keuntungan jangka pendek bagi produsen, karena mereka dapat menjual produk dalam jumlah besar dengan proses yang lebih sederhana. Tidak perlu memikirkan desain kemasan, strategi pemasaran, maupun distribusi. Namun di sisi lain, kondisi ini menimbulkan kerugian jangka panjang yang cukup signifikan, terutama dalam hal pengembangan nilai produk dan daya saing.
Salah satu dampak paling nyata adalah hilangnya identitas produk. Meskipun lanting yang beredar di pasaran sebenarnya berasal dari Jetis, konsumen tidak mengenal asal-usulnya. Yang mereka kenal justru adalah merek dagang milik pedagang besar yang mengemas ulang produk tersebut. Akibatnya, nama “Jetis” sebagai sentra lanting tidak memiliki nilai jual yang kuat di mata konsumen.
Padahal, dalam dunia usaha modern, branding memegang peranan yang sangat penting. Produk yang memiliki merek kuat cenderung lebih mudah dikenal, dipercaya, dan dipilih oleh konsumen. Selain itu, branding juga memungkinkan produsen untuk menetapkan harga yang lebih tinggi, karena produk dianggap memiliki nilai tambah. Tanpa branding, lanting dari Jetis akan terus diposisikan sebagai produk komoditas biasa yang bersaing hanya dari segi harga.
Selain persoalan identitas, sistem penjualan bal-balan juga membuat produsen sulit berkembang secara mandiri. Mereka cenderung bergantung pada pedagang besar sebagai pembeli utama. Jika suatu saat permintaan dari pedagang menurun atau harga ditekan, produsen tidak memiliki alternatif pasar lain. Hal ini tentu berisiko terhadap keberlangsungan usaha, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah.
Di sisi lain, keterbatasan pengetahuan dan akses juga menjadi faktor yang memengaruhi kondisi ini. Banyak produsen lanting di Jetis masih menjalankan usaha secara tradisional, dengan fokus utama pada produksi. Mereka belum terbiasa dengan konsep pemasaran modern seperti branding, digital marketing, atau penjualan langsung ke konsumen. Selain itu, keterbatasan modal juga sering menjadi alasan mengapa mereka belum berani mengembangkan kemasan dan merek sendiri.
Padahal, peluang untuk mengembangkan lanting Jetis sebenarnya sangat besar. Dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap produk lokal dan oleh-oleh khas daerah, lanting memiliki potensi untuk menjadi produk unggulan yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Apalagi jika didukung dengan kemasan yang menarik, variasi rasa, serta cerita atau narasi tentang asal-usul produk.
Langkah awal yang dapat dilakukan adalah membangun kesadaran akan pentingnya branding di kalangan produsen. Edukasi dan pendampingan dari pemerintah daerah, komunitas, maupun pihak swasta sangat dibutuhkan untuk membantu pelaku usaha memahami manfaat memiliki merek sendiri. Selain itu, pelatihan terkait desain kemasan, strategi pemasaran, hingga pemanfaatan media sosial juga dapat menjadi solusi untuk meningkatkan daya saing produk.
Selanjutnya, produsen dapat mulai mencoba memasarkan sebagian produknya dengan merek sendiri, tanpa harus langsung meninggalkan sistem bal-balan sepenuhnya. Pendekatan bertahap ini dapat menjadi cara yang lebih aman untuk menguji pasar sekaligus membangun kepercayaan diri pelaku usaha. Jika respon pasar positif, maka skala produksi dengan branding sendiri dapat terus ditingkatkan.
Kolaborasi antar produsen juga menjadi hal yang penting. Dengan membentuk kelompok usaha atau koperasi, para produsen dapat saling berbagi sumber daya, mulai dari pengadaan bahan baku, produksi, hingga pemasaran. Bahkan, mereka bisa menciptakan brand bersama yang merepresentasikan lanting khas Jetis sebagai produk unggulan daerah.
Tidak kalah penting, dukungan dari pemerintah juga perlu dioptimalkan. Program pengembangan UMKM, bantuan permodalan, hingga fasilitasi promosi dapat menjadi pendorong bagi produsen untuk naik kelas. Event pameran, festival kuliner, maupun pemasaran melalui platform digital juga dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan lanting Jetis ke pasar yang lebih luas.
Pada akhirnya, permasalahan utama lanting khas Jetis bukan terletak pada kualitas produk, melainkan pada bagaimana produk tersebut diposisikan di pasar. Selama produsen masih bergantung pada sistem bal-balan tanpa merek, maka nilai ekonomi yang diperoleh akan selalu terbatas. Sebaliknya, dengan membangun branding yang kuat, lanting tidak hanya menjadi camilan tradisional, tetapi juga produk unggulan yang memiliki identitas, nilai tambah, dan daya saing tinggi.
Dengan langkah yang tepat dan kerja sama dari berbagai pihak, bukan tidak mungkin lanting khas Jetis suatu hari nanti dikenal luas sebagai produk kebanggaan daerah, bahkan mampu menembus pasar nasional hingga internasional.